Rabu, 27 April 2016

Problem Posing


PROBLEM POSING

Oleh :

M. Yudittia Yasin

1431082 / 2014-C

Lestariningsih, S.Pd. M.Pd.

Pembelajaran Inovatif

STKIP PGRI Sidoarjo


      A.    PENGERTIAN PROBLEM POSING

Problem posing adalah istilah dalam bahasa inggris yaitu dari kata “Problem” artinya masalah, soal, atau persoalan dan kata “to pose” yang artinya mengajukan. Problem posing bisa diartikan sebagai pengajuan soal atau pengajuan masalah. Problem posingadalah salah satu model pembelajaran yang sudah lama dikembangkan, Huda (2013: 276) menyatakan bahwa problem posing merupakan istilah yang pertama kali dikembangkan oleh ahli pendidikan asal Brazil, Paulo Freire.
. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa model problem posingadalah model pembelajaran yang mewajibkan siswa belajar melalui pengajuan soal dan pengerjaan soal secara mandiri tanpa bantuan guru.

B.     LANGKAH-LANGKAH PROBLEM POSING

            Selanjutnya, Saminanto (Maulina, 2013: 20-21) menyatakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran problem posing adalah :
1)      Guru menjelaskan materi pelajaran menggunakan alat peraga,
2)      Guru memberikan latihan soal,
3)      Siswa diminta mengajukan soal,
4)      Secara acak, guru meminta siswa untukmenyajikansoaltemuannya di depankelas, dan
5)      Guru memberi tugas rumah secara individu.

            Langkah-langkah penerapan model problem posing yang dikemukakanolehAmridanSaminanto, sejalandenganpendapatThobronidanMustofa (2012: 351) yang menyatakahbahwa :
1.   Guru menjelaskan materi pelajaran kepada siswa menggunakan alat peraga untuk memfasilitasi siswa dalam mengajukan pertanyaan,
2.       Siswa diminta untuk mengajukan pertanyaan secara berkelompok,
3.      Siswa saling menukarkan soal yang telah diajukan,
4.      Kemudian menjawab soal-soal tersebut dengan berkelompok.

            Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan, bahwa langkah-langkah problem posing adalah siswa mengajukan dan menjawab soal dengan berkelompok berdasarkan penjelasan guru ataupun pengalaman siswa itu sendiri.
Maka, langkah-langkah yang digunakan adalah :
1)      Menjelaskan materi pelajaran dengan media yang telah disediakan,
2)      Membagi siswa menjadi kelompok secara heterogen,
3)      Secara berkelompok, siswa mengajukan pertanyaan pada lembar soal,
4)      Menukarkan lembar soal pada kelompok lainnya,
5)      Menjawab soal pada lembar jawab, dan
6)      Mempresentasikan lembar soal dan lembar jawab di depan kelas.
 C.    CIRI-CIRI PROBLEM POSING
ThobronidanMustofa (2012: 350) menyatakan bahwa pembelajaran problem posing memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.     Guru belajar dari murid dan murid belajar dari guru
2.    Guru menjadi rekan murid yang melibatkan diri dan menstimulasi daya pemikiran kritis murid-muridnya serta mereka saling memanusiakan.
3.     Manusia dapat mengembangkan kemampuannya untuk mengerti secara kritis dirinya dan dunia tempat ia berada.
4.   Pembelajaran problem posing senantiasa membuka rahasia realita yang menantang manusia kemudian menuntut suatu tanggapan terhadap tantangan tersebut.
            Berdasarkan ciri-ciri yang telah disebutkan di atas, bahwa model problem posing ini bersifatfleksibel, mengesankan, menganggap murid adalah subjek belajar, membuat anakuntukmengembangkanpotensinyasebagai orang yang memiliki potensi rasa ingintahudanberusahankerasdalammemahami lingkungannya.

D. TIPE MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING
            Tiga tipe model pembelajaran problem posing yang dapat dipilih guru (Usmanto,2007). Pemilihan tipe ini dapat disesuaikan dengan tingkat kecerdasan para siswa( peserta didik).
1.      Problem posing tipe pre-solution posing
            Siswa membuat pertanyaan dan jawaban berdasarkan pernyataan yang dibuat oleh guru. Jadi, yang diketahui pada soal itu dibuat guru, sedangkan siswa membuat pertanyaan dan jawabannya sendiri.
2.      Problem posing tipe within solution posing
            Siswa memecahkan pertanyaan tunggal dari guru menjadi sub-sub pertanyaan yang relevan dengan pertanyaan guru.
3.      Problem posing tipe post solution posing
            Siswa membuat soal yang sejenis dan menantang seperti yang dicontohkan oleh guru.  Jika guru dan siswa siap maka siswa dapat diminta untuk mengajukan soal yang menantang dan variatif pada pokok bahasan yang diterangkan guru. Siswa harus bisa menemukan jawabannya. Tetapi ingat, jika siswa gagal menemukan jawabannya maka guru merupakan narasumberutamabagisiswanya. Guru harus benar-benar menguasai materi.
Penerapan ketiga macam model pembelajaran problem possingmenurutAmin Suyitno dalam Sari (2007), menjelaskanbahwa problem posingdiaplikasikandalamtigabentuk aktifitas kognitif matematika sebagai berikut.
a. Pre solution posing
Pre solution posing yaitu siswa membuat pertanyaan berdasarkan pernyataan yang dibuat oleh guru. Contoh penerapan dalam soal, jika guru memberikan pernyataan sebagai berikut.
“Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit”
Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.
1) Berapakahbanyaknyaanak yang hanya menyukai biskuit?
2) Berapakahbanyaknyaanak yang hanya menyukai cokelat?
3) Berapakahbanyaknyaanak yang menyukai biskuit dan cokelat?
b. Within solution posing
Within solution posing yaitu siswa memecah pertanyaan tunggal dari guru menjadi sub-sub pertanyaan yang relevan dengan pertanyaan guru.
Contoh penerapan dalam soal, jika guru memberikan pernyataan sebagai berikut.
“Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit. Berapakahbanyaknyaanak yang menyukai biskuit dan cokelat?”
Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.
a) Berapakahbanyaknyaanak yang hanya menyukai cokelat?
b) Berapa banyaknya anak yang hanya menyukai biskuit?
c) Post solution posing
Post solution posing yaitu siswa membuat soal yang sejenis, seperti yang dibuat oleh guru. Jika guru memberikan pertanyaan sebagai berikut.
“Dari 85 anak diketahui hanya 12 anak yang tidak menyukai biskuit dan cokelat, 45 anak menyukai cokelat, dan 38 anak menyukai biskuit
      a) Berapakahbanyaknyaanak yang hanya menyukai biskuit?    
      b) Berapakahbanyaknyaanak yang hanya menyukai cokelat?
      c) Berapakahbanyaknyaanak yang menyukai biskuit dan cokelat?”
Kemungkinan pertanyaan yang dibuat oleh siswa sebagai berikut.
Dari 42 siswa, 45 siswa menyukai atletik, 38 siswa menyukai senam, dan hanya 8 siswa yang tidak menyukai atletik dan senam.
      a) Berapakahbanyaknyaanak yang hanya menyukai atletik?
      b) Berapakahbanyaknyaanak yang hanya menyukai senam?
      c) Berapakahbanyaknyaanak yang menyukai atletik dan senam?
Adapun kondisi dalam pembentukansoal, menurutSrini M. Iskandar dalam Syarifulfahmi dibagi menjadi tiga golongan yakni:
1.    Kondisi bebas, yakni jika kondisi tersebut memberi kebebasan sepenuhnya kepada siswa untuk membentuk soal, karena siswa tidak diberi kondisi yang harus dipenuhi.
2.    Kondisi semi terstruktur, yakni jika siswa diberi suatu kondisi dengan menggunakanpengetahuan yang dimilikinya.
3.    Kondisi terstruktur, adalah jika kondisi yang digunakan berupa soal atau penyelesaian soal.

E.PRINSIP-PRINSIP
            Guru matematika dalam rangka mengembangkan model pembelajaran problem posing (pengajuan soal) dalam pembelajaran matematika, dapat menerapkan prinsip-prinsip dasar berikut :
1.    Pengajuan soal harus berhubungan dengan apa yang dimunculkan dari aktivitas siswa di dalam kelas.
2.      Pengajuan soal harus berhubungan dengan proses pemecahan masalah siswa.
3.   Pengajuan soal dapat dihasilkan dari permasalahan yang ada dalam buku teks, dengan memodifikasikan dan membentuk ulang karakteristik bahasa dan tugas.
F.KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PROBLEM POSING
            Setiap model pembelajaran pasti ada kelebihan dan kekurangannya. ThobronidanMustofa (2012: 349) mengemukakan bahwa kelebihan metode problem posing adalah :
1.      Mendidik murid berfikir kritis
2.      Siswa aktif dalam pembelajaran
3.      Belajar menganalisis suatu masalah
4.      Mendidik anak percaya pada diri sendiri.
            Menurut Norman dan Bakar (2011) menguraikan bahwa kelebihan model problem posing adalah:
1.     Kemampuan memecahkan masalah/ mampu mencari berbagai jalan dari suatu kesulitan yang dihadapi
2.     Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman siswa / terampil menyelesaikan soal tentang materi yang diajarkan.
3.      Mengetahui proses bagaimana cara siswa memecahkan masalah
4.  Meningkatkan kemampuan mengajukan soal dan sikap yang positif terhadap materi pembelajaran.

            Sejalankeduapendapatdiatasbahwakelebihan model pembelajaran problem posing yaitu :
1.      Siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran
2.      Minat yang positif terhadap materi pembelajaran
3.      Membantu siswa untuk melihat permasalahan yang ada sehingga meningkatkan kemampuan          menyelesaikan masalah
4.      Memunculkan ide yang kreatif dalam mengajukan soal
5.      Mengetahui proses bagaimana cara siswa memecahkan masalah.

            Kekurangan model problem posing yaitu :
1.      Pembelajaran model problem posing membutuhkan waktu yang lama
2.      Agar perlaksanaankegiatandalammembuat soal dapat dilakukan dengan baik perlu ditunjang oleh buku-buku yang dapat dijadikan pemahaman dalam kegiatan belajar terutama membuat soal.

H. SEJARAH PROBLEM POSSING
MenurutSuyitno Amin, 2004 dalam Sari, Problem posing mulai dikembangkan pada tahun 1997 oleh Lynn D. English dan awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran matematika. Kemudian model ini dikembangkan pada mata pelajaran yang lain. Model pembelajaran problem posing mulai masuk ke Indonesia pada tahun 2000.

I. TUJUAN DAN MANFAAT PROBLEM POSSING
Menurut pendapat beberapa ahli, yang dikutipolehTatag (M. Thobroni, 2011: 349) mengatakan bahwa, metode pengajuan soal (problem posing) dapat:
1)      Membantu siswa dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaan terhadap pelajaran sebab ide-ide siswa dicobakan untuk memahami masalah yang sedang dikerjakan dan dapat meningkatkan kemampuannya dalam pemecahan masalah.
2)      Membentuk siswa bersikap kritis dan kreatif.
3)      Mempromosikansemangatinquiridanmembentukpikiran yang berkembang dan fleksibel.
4)      Mendorong siswa untuk lebih bertanggungjawabdalambelajarnya.
5)      Mempertinggi kemampuan pemecahan masalah sebab pengajuan soal memberi penguatan-penguatan            dan memperkaya konsep-konsep dasar.
6)      Menghilangkan kesan keseraman dan kekunoan dalam belajar.
7)      Memudahkan siswa dalam mengingat materi pelajaran.
8)      Memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran.
9)      Membantu memusatkan perhatian pada pelajaran.
10)  Mendorong siswa lebih banyakmembacamateripelajaran.



J.Hal-hal yang PerluDiperhatikan dalam Pendekatan Pembelajaran Problem Posing

Silver dalam Kadir (2006:8) menyatakan bahwa istilah problem posing umumnya digunakan pada tiga bentuk kegiatan yang bersifatmetematis, yaitu:
1.Sebelum pengajuan solusi, yaitu satu pengembangan masalah awal dari situasi stimulus yang diberikan
2.Di dalam pengajuan solusi, yaitu merumuskan kembali masalah agar menjadi lebih mudah untuk diselesaikan
3.Setelah pengajuan solusi, yaitu memodifikasi tujuan atau kondisi dari masalah yang sudah diselesaikan untuk merumuskan masalah baru
Petunjuk Pembelajaran yang Berkaitan dengan Guru
1.Guru hendaknya membiasakan merumuskan soal baru atau memperluassoaldarisoal-soalyangada di buku pegangan
2.Guru hendaknya menyediakan beberapa situasi yang berupa informasi tertulis, benda manipulatif, gambar, atau lainnya, kemudian guru melatih siswa merumuskan soal dengan situasi yang ada.
3.Guru dapat menggunakan soal terbuka dalam tes.
4.Guru memberikan contoh perumusan soal dengan beberapa taraf kesukaran, baik isi maupun bahasanya.
5.Guru menyelenggarakan reciprocal teaching, yaitu pembelajaran yang berbentuk dialog antara guru dan siswa mengenai isi buku teks, yang dilaksanakandengancaramenggilirsiswaberperansebagai guru. (Sutiarso, 2000).
Petunjuk Pembelajaran yang Berkaitan dengan Siswa
1.Siswa dimotivasi untuk mengungkapkan pertanyaan sebanyak-banyaknya terhadap situasi yang diberikan.
2.Siswa dibiasakan mengubah soal-soal yang ada menjadi soal yang baru sebelum mereka menyelesaikannya.
3.Siswa dibiasakan membuat soal-soal serupa setelah menyelesaikan soal tersebut.
4.Siswa harus diberi kesempatan untuk menyelesaikan soal-soal yang dirumuskan oleh temannya sendiri.
5.Siswa dimotivasi untuk menyelesaikan soal-soal non rutin. (Sutiarso, 2000)

Pendekatan Open Ended

Pendekaan Open Ended 

Oleh :

M. Yudittia Yasin

1431082 / 2014-C

Lestariningsih, S.Pd. M.Pd.

STKIP PGRI Sidoarjo


A.    Pendekatan Open Ended Dalam Pembelajaran Matematika
Pendekatan open-ended adalah "an instructional strategy that creates interest and stimulates creative mathematical activity in the classroom through students’ collaborative work. Lessons using open-ended problem solving emphasize the process of problem solving activities rather than focusing on the result" (Shimada &Becker, 1997; dan Foong, 2000).
Pendekatan open-ended prinsipnya sama dengan pembelajaran berbasis masalah yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang dalam prosesnya dimulai dengan memberi suatu masalah kepada siswa. Bedanya Problem yang disajikan memiliki jawaban benar lebih dari satu. Problem yang memiliki jawaban benar lebih dari satu disebut problem tak lengkap atau problem open-ended atau problem terbuka. Contoh penerapan problem open-ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan dan bukan berorientasi pada jawaban akhir. Dihadapkan dengan problem open-ended  siswa tidak hanya mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban. Pembelajaran dengan pendekatan open-ended biasanya dimulai dengan memberikan problem terbuka kepada siswa. Kegiatan pembelajaran membawa siswa dalam menjawab pertanyaan dengan banyak cara dan mungkin juga dengan banyak jawaban sehingga mengundang potensi intelektual dan pengalaman siswa dalam menemukan sesuatu yang baru.
Tujuan pembelajaran melalui pendekatan open-ended menurut Nohda (Erman Suherman dkk, 2003:124) yaitu untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif  dan pola pikir matematis siswa melalui problem solving secara simultan. Dengan kata lain kegiatan kreatif dan pola pikir matematis siswa harus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan setiap peserta didik agar aktivitas kelas yang penuh ide-ide matematika memacu kemampuan berfikir tingkat tinggi peserta didik.
Pendekatan open-ended menjanjikan suaru kesempatan kepada siswa untuk menginvestigasi berbagai strategi dan cara yang diyakininya sesuai dengan mengelaborasi permasalahan. Tujuannya agar kemampuan berpikir matematika siswa dapat berkembang secara maksimal dan pada saat yang sama kegiatan-kegiatan kreatif dari setiap siswa dapat terkomunikasikan melalui proses belajar mengajar. Pokok pikiran dari pembelajaran dengan open-ended yaitu pembelajaran yang membangun kegiatan interaktif antara matematika dan siswa sehingga mengundang siswa untuk menjawab permasalahan melalui berbagai strategi. Dengan kata lain pembelajaran matematika dengan pendekatan open-ended bersifat terbuka.
Dalam pembelajaran matematika, pendekatan open-ended berarti memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar melalui aktivitas-aktivitas real life dengan menyajikan fenomena alam seterbuka mungkin pada siswa. Bentuk penyajian fenomena dengan terbuka ini dapat dilakukan melalui pembelajaran yang berorientasi pada masalah atau soal atau tugas terbuka. Secara konseptual masalah terbuka dalam pembelajaran Matematika adalah masalah atau soal-soal Matematika yang dirumuskan sedimikian rupa, sehingga memiliki beberapa atau bahkan banyak solusi yang benar, dan terdapat banyak cara untuk mencapai solusi itu.
Dalam pendekatan open-ended guru memberikan permasalahan kepada siswa yang solusinya atau jawabannya tidak hanya ditentukan hanya dengan satu jalan atau cara. Guru harus memanfaatkan keberagaman cara atau prosedur untuk menyelesaikan masalah itu untuk memberi pengalaman siswa dalam menemukan sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan, keterampilan dan cara berpikir matematika yang telah diperoleh sebelumnya.
B.     Hakekat Pendekatan Open Ended
Dalam pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended, siswa diharapkan bukan hanya mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada proses pencarian suatu jawaban. Menurut Suherman dkk (2003:124) mengemukakan bahwa dalam kegiatan matematik dan kegiatan siswa disebut terbuka jika memenuhi ketiga aspek berikut:
a.  Kegiatan siswa harus terbuka
Yang dimaksud kegiatan siswa harus terbuka adalah kegiatan pembelajaran harus mengakomodasi kesempatan siswa untuk melakukan segala sesuatu secara bebas sesuai kehendak mereka.
b.  Kegiatan matematika merupakan ragam berpikir
Kegiatan matematik adalah kegiatan yang didalamnya terjadi proses pengabstraksian dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari ke dalam dunia matematika atau sebaliknya.
c.  Kegiatan siswa dan kegiatan matematika merupakan satu kesatuan
Dalam pembelajaran matematika, guru diharapkan dapat mengangkat pemahaman dalam berpikir matematika sesuai dengan kemampuan individu. Meskipun pada umumnya guru akan mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan pengalaman dan pertimbangan masing-masing. Guru bisa membelajarkan siswa melalui kegiatan-kegiatan matematika tingkat tinggi yang sistematis atau melalui kegiatan-kegiatan matematika yang mendasar untuk melayani siswa yang kemampuannya rendah. Pendekatan uniteral semacam ini dapat dikatakan terbuka terhadap kebutuhan siswa ataupun terbuka terhadap ide-ide matematika.
            Pada dasarnya, pendekatan Open-Ended bertujuan untuk mengangkat kegiatan kreatif siswa dan berpikir matematika secara simultan. Oleh karena itu hal yang perlu diperhatikan adalah kebebasan siswa untuk berpikir dalam membuat progresspemecahan sesuai dengan kemampuan, sikap, dan minatnya sehingga pada akhirnya akan membentuk intelegensi matematika siswa.

C.    Orientasi Pendekatan Open Ended Dalam Pembelajaran Matematika
Sama halnya seperti ilmu-ilmu sosial, permasalahan atau soal-soal dalam matematika pun secara garis besar dapat diklasifikasi menjadi dua bagian. Yang pertama adalah masalah-masalah matematika tertutup (closed problems). Dan yang kedua adalah masalah-masalah matematika terbuka (open problems).
Yang selama ini muncul di permukaan dan banyak diajarkan di sekolah adalah masalah-masalah matematika yang tertutup (closed problems). Di mana memang dalam menyelesaikan masalah-masalah matematika tertutup ini, prosedure yang digunakannya sudah hampir bisa dikatakan standar alias baku. Akibatnya timbul persepsi yang agak keliru terhadap matematika. Matematika dianggap sebagai pengetahuan yang pasti dan procedural. Sementara itu, masalah-masalah matematika terbuka (open problems) sendiri hampir tidak tersentuh, hampir tidak pernah muncul dan disajikan dalam proses pembelajaran matematika di sekolah. Akibatnya bila ada permasalahan matematika macam ini, soal atau permasalahan itu dianggap ‘salah soal’ atau soal yang tidak lengkap

D.    Mengkontruksi Problem
Menurut Suherman, dkk. (2003) mengkonstruksi dan mengembangkan masalah Open-ended yang tepat dan baik untuk siswa dengan tingkat kemampuan yang beragam tidaklah mudah. Akan tetapi berdasarkan penelitian yang dilakukan di Jepang dalam jangka waktu yang cukup panjang, ditemukan beberapa hal yang dapat dijadikan acuan dalam mengkonstruksi masalah, antara lain sebagai berikut:
a.    Menyajikan permasalahan melalui situasi fisik yang nyata di mana konsep- konsep matematika dapat diamati dan dikaji siswa.
b.    Menyajikan soal-soal pembuktian dapat diubah sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan hubungan dan sifat-sifat dari variabel dalam persoalan itu.
c.    Menyajikan bentuk-bentuk atau bangun-bangun (geometri).
d.   Menyajikan urutan bilangan atau tabel sehingga siswa dapat menemukan aturan matematika.
e.    Memberikan beberapa contoh konkrit dalam beberapa kategori sehingga siswa bisa mengelaborasi sifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat yang umum.
f.     Memberikan beberapa latihan serupa sehingga siswa dapat menggeneralisasai dari pekerjaannya.

E.                 Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Open Ended
1.      Keunggulan Pendekatan Open-Ended
Pendekatan Open-Ended ini menurut Suherman, dkk (2003:132) memiliki beberapa keunggulan antara lain:
  1. Siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan idenya.
  2. Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan matematik secara komprehensif.
  3. Siswa dengan kemapuan matematika rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri.
  4. Siswa secara intrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan.
  5. Siswa memiliki pengelaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.
2.      Kelemahan Pendekatan Open-Ended
Disamping keunggulan, menurut Suherman, dkk (2003;133) terdapat pula kelemahan dari pendekatan Open-Ended, diantaranya:
  1. Membuat dan menyiapkan masalah matematika yang bermakna bagi siswa bukanlah pekerjaan mudah.
  2. Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan bagaimana merespon permasalahan yang diberikan.
  3. Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka.
  4. Mungkin ada sebagaian siswa yang merasa bahwa kegiatan

Pembelajaran Saintifik

Pembelajaran Saintifik

Oleh :

M. Yudittia Yasin

1431082 / 2014-C

Lestariningsih, S.Pd. M.Pd.

Pembelajaran Inovatif

STKIP PGRI Sidoarjo

Pendekatan Saintifik atau yang lebih dikenal dengan pendekatan berbasis ilmiah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang berbasis pengamatan, mengumpulkan informasi/ekspresi, mengolah informasi dan mengkomunikasikan. pendekatan saintifik model kurikulum 2013 ini menggunakan proses kegiatan pembelajaran yang mengacu kepada esensi pendekatan saintifik. Pendekatan yang dipelopori oleh Bruner ini menekankan aspek sikap yang artinya bahwa siswa tahu mengapa, pengetahuan artinya siswa tahu apa, dan keterampilan artinya siswa dapat mempelajari sesuatu dengan mengetahui dengan tahu bagaimana. Dari asumsi demikian, sehingga dalam kegiatan pembelajaran atau proses kerjanya mengedepankan penalaran induktif (Inductive reasoning) dibandingkan dengan penalaran deduktif (Deductive Reasoning).
Bila ditilik dari kata “sains”maka mengartikan bahwa proses pembelajaran pada model ini memang mengarah kepada keilmuan yang mengedepankan aspek kebenaran kenyataan dan fakta dengan melakukan riset secara logika dan bukan sebatas kira-kira, tafsiran dan hasil cerita yang tidak mengandung jawaban dan informasi yang jelas. Pendekatan saintifik membuang anggapan bahwa penjelasan guru, respon dari siswa, interaksi antara guru dan siswa hanyalah sebagai tafsiran yang hanya sebatas serta merta, pemikiran subjektif, dan hanya sebagai bentuk sikap penalaran yang menyimpang dari alur logis sebuah pemikiran. Gagasan, pemikiran dan pandangan harus disertai dengan sebuah uji keilmian atau penelitian.
Dari pengertian dan ulasan singkat di atas, maka hasil akhir dari proses pembelajaran didapat sebuah peningkatan dan keseimbangan antara menjadi sebuah individu yang baik dan menjadi seorang individu yang memiliki kecakapan pengetahuan dari hasil pengalamannya yang didapat secara layak. Maka dari itu, pembelajaran dengan pendekatan saintifik (Scientifik) adalah pendekatan dengan teknik pembelajaran yang meliputi, mengamati, menanya, menalar, mencoba dan membentuk jejaring dari semua mata pelajaran. pendekatan saintifik model kurikulum 2013 merupakan model pembelajaran abad ke-21. Pentingnya penekanan sikap, keterampilan dan pengetahuan pada siswa dapat menumbuhkembangkan daya kreativitas anak dalam belajar.
Penalaran induktif (Inductive Reasoning) merupakan kegiatan dalam langkah pengambilan bukti-bukti pengamatan secara spisifik dan menghubungkannya ke dalam relasi ide-ide yang luas. Artinya, dalam kegiatan ini kajian secara spesifik menjadi langkah yang penting dalam merumuskan kesimpulan secara keseluruhan. Lebih lanjut lagi, arah kegiatan siswa pada penalaran induktif lebih menekankan pentingnya telaah pengkajian sebagai bukti pengamatan secara spesifik. Sedangkan penalaran deduktif (Deductive Reasoning)adalah kegiatan atau proses kerja yang menyatakan fenomena secara umum. Artinya bahwa untuk menarik simpulan secara spesifik, penalaran induktif melakukan riset atau pengamatan dengan melihat fenomena umum yang nampak dan terjadi. Dari kedua penalaran tersebut, pendeknya dapat disimpulkan atau dijelaskan yakni, bahwa penalaran deduktif melihat suatu gejala atau fenomena atau permasahan secara umum kemudian menarik simpulan secara spesifik. Sedangkan penalaran secara induktif memandang fenomena atau gejala suatu permasalahan secara spesifik kemudian di pecahkan dengan menarik simpulan secara menyeluruh.
Dalam kegiatannya, pendekatan saintifik atau model pembelajaran ilmiah ini di dalam menarik sebuah simpulan umum senantiasa memperhatikan fenomena unik yang terjadi dengan melakukan kajian secara spesifik dan juga secara detail. Pendekatan seintifik tersebut bila disimpulkan lebih merujuk kepada teknik-teknik investigasi atau mencari informasi terhadap fenomena atau suatu gejala, kemudian mencari pengetahuan baru yang kemudian memadukannya dengan pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya. Oleh sebab itu, pendekatan saintifik atau pendekatan ilmiah cenderung berbasis pada bukti-bukti dari fenomena untuk dapatnya diobservasi, empiris dan dapat terukur serta teruji dengan prinsip-prinsip menggunakan penalaran secara spesifik. Seperti kegiatan karya ilmiah di tingkat perguruan tinggi, maka pendekatan saintifik atau model ilmiah yang akan diterapkan di satuan-satuan tingkat pendidikan dari SD/MI sampai SMK/SMA ini secara umum alur kegiatan atau proses kerjanya adalah dapat disimpulkan dengan memuat serangkaian kegiatan pengumpulan data dengan melakukan observasi atau pengamatan atau eksperimen kemudian mengolah menjadi serangkaian informasi atau data, menganalisis data, tahap terakhir menguji kebenaran atau menarik kesimpulan sementara yang dalam bahasa ilmiahnya disebut dengan hipotesis.

Langkah-langkah Pembelajaran Pendekatan Saintifik (Scientific)
Seperti uraian di atas, dalam penerapannya,  pendekatan saintifik model kurikulum 2013 diharapkan guru terlebih dahulu dapat memahami langkah-langkah dan tata cara penggunaan pendekatan saintifik ini dengan baik agar dalam kegiatannya nanti dapat berjalan dengan sempurna. Dalam Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013 lampiran IV, langkah-langkah pembelajaran pendekatan saintifik adalah sebagaimana berikut di bawah ini.
1.             Mengamati
2.             Menanya
3.             Mengumpulkan informasi/melakukan eksperimen
4.             mengasosiasikan/mengolah informasi
5.             Mengkomunikasikan

Dari kegiatan atau langkah-langkah kelima kegiatan tersebut di atas, maka secara detail dapat di uraikan langkah-langkah pembelajaran pendekatan saintifik sebagaimana berikut yakni.
1.  Mengamati. pada aspek ini, kegiatan siswa dapat berupa membaca buku, mendengar cerita, baik cerita dalam bentuk sumber langsung maupun mendengar dongeng dan menyimak atau melihat fenomena atau situasi tanpa atau dengan alat. Sedangkan kompetensi yang dapat dikembangkan oleh guru dalam pembelajaran adalah dengan cara guru melatih kesungguhan siswa, ketelitian siswa dan mambantu siswa dalam mencari informasi yang dibutuhkannya.
2. Menanya. pada langkah ini, kegiatan siswa adalah banyak melakukan pertanyaan-pertanyaan yang tentunya mengenai informasi yang belum dipahami dari apa yang sudah diamati siswa. selain itu, pertanyaan itu dapat disampaikan berupa informasi tambahan tentang apa yang diamatinya. dari pertanyaan yang sifatnya faktual hingga yang bersifat hipotetik atau dugaan atau jawaban sementara.Kompetensi yang dapat dikembangkan adalah guru mendorong dalam mengembangkan kreativitas siswa, memiliki rasa keinginan tahuan, kemampuan dalam merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis demi keperluan hidup siswa cerdas dan belajar sepanjang hayat.
3.   Mengumpulkan informasi/eksperimen. Pada langkah ini guru membimbing siswa dalam melakukan eksperimen, membantu siswa dalam mencari dan mengolah sumber belajar yang lain yang relevan baik dari buku teks maupun buku sekolah elektronik (BSE), mengajak siswa mengamati objek/kejadian/peristiwa/fenomena yang terjadi pada mata pelajaran yang dipelajari saat itu. Kompetensi yang dikembangkan guru dalam hal ini adalah mengembangkan sikap ketelitian pada siswa, mengajarkan berperilaku jujur, mengajarkan untuk menghargai pendapat orang lain, mengolah dan menyusun kemampuan dalam berkomunikasi, menerapkan kemampuan dalam mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dapat dipelajari siswa, membimbing siswa dalam mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
4.  Mengasosiasikan/mengolah informasi. Kegiatan yang dapat diterapkan guru pada langkah ini adalah mengarahkan siswa untuk dapat mengolah informasi yang sudah diperoleh dari hasil eksperimen siswa atau hasil dari kegiatan siswa dalam mengumpulkan informasi, mengolah informasi yang dihimpun atau bahkan menambah informasi yang didapat dengan mengolah informasi tersebut dengan membandingkan dari hasil pendapat orang lain baik bertentangan maupun yang berbeda pendapat dengan maksud untuk mencari solusi dan kebenaran. Kompetensi yang dikembangkan guru dalam hal ini adalah mengembangkan sikap jujur kepada siswa, ketelitian, disiplin, taat pada aturan, bekerja keras, mengarahkan siswa untuk mampu menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta penarapan deduktif dalam menyimpulkan dugaan sementara/hipotesis.

5. Mengkomunikasikan. langkah terakhir pada pendekatan saintifik adalah dengan mengkomunikasikan hasil eksperimen dan informasi yang diperoleh dengan menyampaikan hasil pengamatannya berdasarkan atas kesimpulan hasil analisisnya baik secara lisan, tulisan maupun media lainnya. Kompetensi yang harus dikembangakan guru kepada siswa adalah dengan mengembangkan sikap jujur pada siswa, teliti, toleransi antar sesama, mengajarkan siswa untuk mampu berpikir sistematis, mengungkapkan gagasan/ide/pendapatnya dengan penjelasan yang singkat dan jelas, serta mengembangkan kemampuan berbahasa indonesia yang baik dan benar.

PMRI

Pendidikan Matematika Realistik Indonesia

Oleh :

M. Yudittia Yasin

1431082 / 2014-C

Lestariningsih, S.Pd. M.Pd.

Pembelajaran Inovatif

STKIP PGRI Sidoarjo


PENDAHULUAN
Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu berkompetisi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga pendidikan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh hasil maksimal. Pendidikan hendaknya dikelola, baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal tersebut dapat dicapai dengan terlaksananya pendidikan yang tepat waktu dan tepat guna untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Sejalan dengan upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekolah merupakan lembaga formal penyelenggara pendidikan. Sekolah Dasar (SD) sebagai salah satu lembaga formal dasar yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan Nasional mengemban misi dasar dalam memberikan kontribusi untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan dilaksanakan dalam bentuk proses belajar mengajar yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum sekolah. Melalui kegiatan pengajaran, siswa-siswi SD yang berada pada tahap operasi konkrit sudah semestinya dibekali dengan ilmu pengetahuan dasar dan keterampilan dasar yang dalam hal ini adalah mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum SD/MI untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya pada jenjang pendidikan selanjutnya.
Pengajaran di kelas tidak terlepas dari aktivitas belajar siswa. Melalui aktivitas belajar tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengalaman belajar sehingga proses pembelajaran akan menjadi lebih bermakna bagi siswa. Pelaksanaannyapun harus dilaksanakan dengan pendekatan belajar yang relevan dengan paradigma pendidikan sekarang.
Paradigma baru pendidikan sekarang ini lebih menekankan pada peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Siswa harus aktif dalam pencarian dan pengembangan pengetahuan. Melalui paradigma baru tersebut diharapkan di kelas siswa aktif dalam belajar, aktif berdiskusi, berani menyampaikan gagasan dan menerima gagasan dari orang lain dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi (Zamroni, 2000). Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan pendekatan dalam pembelajaran matematika yang sesuai dengan paradigma pendidikan sekarang. PMRI menginginkan adanya perubahan dalam paradigma pembelajaran, yaitu dari paradigma mengajar menjadi paradigma belajar (Marpaung, 2004).
PMRI selama ini merupakan sebuah pendekatan pembelajaran matematika yang relatif baru dan belum semua kalangan dalam dunia pendidikan mengenalnya. Selama beberapa tahun belakangan sampai sekarang. PMRI telah diuji coba terbatas di kelas I, II dan III. Kemudian mulai tahun pelajaran 2002/2003 baru dilakukan uji coba penuh di beberapa Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Indonesia dengan hasil yang sangat menggembirakan. Saat ini pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik untuk kelas lainnya masih diujicobakan.
SD Islam Sabilal Muhtadin merupakan salah satu sekolah di Indonesia yang telah melaksanakan pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik di kelas I dan II sejak tahun pelajaran 2003/2004. Seperti halnya di beberapa sekolah di Indonesia, pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik untuk kelas IV masih diujicobakan.
Pembelajaran matematika selama ini terlalu dipengaruhi pandangan bahwa matematika adalah alat yang siap pakai. Pandangan ini mendorong guru bersikap cenderung memberi tahu konsep/ sifat/ teorema dan cara menggunakannya. Guru cenderung mentransfer pengetahuan yang dimiliki ke pikiran anak dan anak menerimanya secara pasif dan tidak kritis. Adakalanya siswa menjawab soal dengan benar namun mereka tidak dapat mengungkapkan alasan atas jawaban mereka. Siswa dapat menggunakan rumus tetapi tidak tahu dari mana asalnya rumus itu dan mengapa rumus itu digunakan. Keadaan demikian mungkin terjadi karena di dalam proses pembelajaran tersebut siswa kurang diberi kesempatan dalam mengungkapkan ide-ide dan alasan jawaban mereka sehingga kurang terbiasa untuk mengungkapkan ide-ide atau alasan dari jawabannya.
Perubahan cara berpikir yang perlu sejak awal diperhatikan ialah bahwa hasil belajar siswa meruapakan tanggung jawab siswa sendiri. Artinya bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi secara langsung oleh karakteristik siswa sendiri dan pengalaman belajarnya. Tanggung jawab langsung guru sebenarnya pada penciptaan kondisi belajar yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang baik (Marpaung, 2004). Pengalaman belajar akan terbentuk apabila siswa ikut terlibat dalam pembelajaran yang terlihat dari aktivitas belajarnya.
PMRI juga menekankan untuk membawa matematika pada pengajaran bermakna dengan mengkaitkannya dalam kehidupan nyata sehari-hari yang bersifat realistik. Siswa disajikan masalah-masalah kontekstual, yaitu masalah-masalah yang berkaitan dengan situasi realistik. Kata realistik disini dimaksudkan sebagai suatu situasi yang dapat dibayangkan oleh siswa atau menggambarkan situasi dalam dunia nyata (Zulkarnain, 2002).

PEMBAHASAN
Matematika Realistik (MR) adalah matematika yang disajikan sebagai suatu proses kegiatan manusia, bukan sebagai produk jadi. Bahan pelajaran yang disajikan melalui bahan cerita yang sesuai dengan lingkungan siswa (kontekstual) (Zigma Edisi, 14, 12 Oktober 2007)
Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa Realistic Mathematics Education (PMRI) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika. Teori PMRI pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal.  Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa (Slettenhaar, 2000). Prinsip penemuan kembali dapat diinspirasi oleh prosedur-prosedur pemecahan informal, sedangkan proses penemuan kembali menggunakan konsep matematisasi (http/darsusianto-blogspot. Com 2007/08/matematika realistik/html).  Adapun konsep pendidikan matematika realistik tentang siswa antara lain sebagai berikut:Siswa memiliki seperangkat konsep alternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya;Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri;Pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan kembali, dan penolakan; Pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman; Setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematik (Zigma Edisi 10, 27 Juni 2007)
Pengajaran matematika dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik meliputi aspek-aspek berikut  :   Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang “riil” bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna; Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut  Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/masalah yang diajukan (De Lange, 1995)
Berdasarkan uraian aspek-aspek di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan matematika realistik berlangsung secara interaktif, siswa mengajukan beberapa pertanyaan kepada guru, dan memberikan alasan terhadap pertanyaan atau jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran.
Prinsip-prinsip Dasar Matematika Realistik
Pendekatan Matematika Realistik (PMR) mempuinyai tiga prinsip kunci, yaitu :
  • Guided Reinvention (menemukan kembali)/progressive Mathematizing (matematesasi progresif), yakni peserta didik diberikan kesempatan untuk mengalami proses yang sama sebagaimana konsep-konsep matematika ditemukan. Pembelajaran dimulai dengan suatu masalah kontekstual atau realistik yang selanjutnya melalui aktifitas siswa dikharapkan menemukan “kembali” sifat, defenisi, teorema atau prosedur-prosedur.
  • Didaktical Phenomenology (fenomena didaktik). Situasi-situasi yang diberikan dalam suatu topik matematika atas dua pertimbangan, yaitu melihat kemungkinan aplikasi dalam pengajaran dan sebagai titik tolak dalam proses matematika.
  • Self-developed Models (pengembangan model sendiri); kegiatan ini berperan sebagai jembatan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Model dibuat siswa sendiri dalam memecahkan masalah. Model pada awalnya adalah suatu model dari situasi yang dikenal (akrab) dengan siswa. Dengan suatu proses generalisasi dan formalisasi, model tersebut akhinrya menjadi suatu model sesuai penalaran matematika (Anonim,  tt)
Karakteristik Matematika Realistik
Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) memiliki 5 karakteristik, yaitu :
  • Menggunakan konteks, Konteks yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lingkuingan keseharian yang nyata (yang dikenal) siswa.
  • Menggunakan model, Istilah model berkaitan dengan model situasi dan model matematik yang dikembangkan oleh siswa sendiri (self developed models). Artinya siswa membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah. Generalisasi dan formalisasi model tersebut akan berubah menjadi model-of masalah tersebut. Melalui penalaran matematik model-of akan bergeser menjadi model-for masalah yang sejenis (http/darsusianto-blogspot. Com 2007/08/matematika realistik/html).
  •  Menggunakan kontribusi murid, Kontribusi yang besar pada proses belajar mengajar diharapkan dan konstruksi peserta didik sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informai mereka ke arah yang lebih formal atau baku.
  • Menggunakan Interaktif, Interaksi antar siswa dengan guru merupakan hal yang mendasar dalam PMR. Secara eksplisit bentuk-bentuk interaksi yang berupa penjelasan, pembenaran, setuju, tidak, pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk formal dari bentuk-bentuk informal siswa.
  • Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya, Topik-topik yang peneliti berikan dikaitkan dan diintegrasikan sehingga memunculkan pemahaman suatu konsep atau operasi secara terpadu, agar hal tersebut dapat memberikan kemungkinan efisien dalam mengajarkan beberapa topik pelajaran.
Langkah-Langkah dalam Pembelajaran Matematika Realistik
  1. Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran Matematika Realistik adalah sebagai berikut :
  2. Memotivasi siswa (memfokuskan perhatian siswa)
  3. Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran
  4. Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang “riil” bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna
  5. Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut;
  6. Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/masalah yang diajukan
  7. Pengajaran berlangsung secara interaktif, siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain; dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran.