Jumat, 29 Januari 2016

Fase-fase model pembelajaran

Fase-fase MPL, MPK, dan MPBM

Oleh :

M. Yudittia Yasin
1431082 / 2014-C
Pembelajaran Inovatif

A.     Lima fase model pengajaran langsung adalah
Fase
Perilaku Guru
1.    Klarifikasi tujuan dan motivasi


2.    Mempresentasi kan pengetahuan /mendemonstrasikan keterampilan

3.    Memberi latihan terbimbing
4.    Mengecek pemahaman dan memberi umpan balik


5.    Memberi latihan lanjutan dan transfer
Guru menyampaikan garis besar tujuan pelajaran, latar belakang, dan menjelaskan mengapa pelajaran itu penting, serta mempersiapkan siswa untuk belajar
Guru mendemontrasikan keterampilan tersebut dengan benar atau mempresentasikan informasi langkah demi langkah
Guru memberi latihan awal
Guru mengecek untuk mencari tahu apakah siswa melakukan tugas dengan benar dan memberi umpan balik
Guru mempersiapkan kondisi untuk latihan lanjutan dengan memusatkan perhatian pada transfer keterampilan dan pengetahuan tersebut ke situasi-situasi lebih kompleks

B.     Lima fase model pengajaran kooperatif adalah
Fase
Perilaku Guru
      1.      Menyampaikan tujuan dan               memotivasi siswa

      2.      Menyajikan informasi


      3.      Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar


      4.      Membimbing kelompok bekerja dan belajar

      5.      Evaluasi


      6.      Memberikan penghargaan
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

C.     Lima fase model pengajaran masalah adalah
Fase
Perilaku Guru
1.    Orientasi siswa kepada masalah


2.    Mengorganisasi siswa untuk belajar


3.    Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok


4.    Mengembangkan dan menyajikan hasil karya



5.    Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Mengorientasikan siswa pada masalah. Menjelaskan tujuan pembelajaran, logistik yang diperlukan, memotivasi siswa terlibat aktif pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih
Mengorganisasi siswa untuk belajar. Membantu siswa membatasi dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi

Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. Mendorong siswa mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, dan mencari untuk penjelasan dan pemecahan

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Membantu mahasiswa melakukan refleksi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang digunakan selama berlangusungnya pemecahan masalah.


Model Pembelajaran Langsung

Model Pembelajaran Langsung

oleh

M. Yudittia Yasin
1431082 / 2014-C
Pembelajaran Inovatif 


  • Model Pengajaran Langsung merupakan sebuah cara yang efektif untuk mengajarkan keterampilan dan informasi dasar kepada siswa.
  • Dikemukakan sebagai model pengajaran yang efektif dikarenakan pengajaran dilakukan secara terstruktur dan bertahap dengan baik.
  • Model pengajaran langsung ditujukan pada pencapaian dua tujuan utama siswa yaitu penuntasan konten akademik yang terstruktur dengan baik dan perolehan seluruh jenis keterampilan.
  • Model pengajaran langsung berpusat pada guru dengan 5 langkah, yaitu :
Ø  Mempersiapkan dan memotivasi siswa,
Ø  menjelaskan dan atau mendemostrasikan,
Ø  latihan terbimbing,
Ø  umpan balik, dan
Ø  latihan lanjutan.

  • Model pengajaran langsung memerlukan persiapan yang seksama dari guru dan sebuah lingkungan belajar yang beriorientasi pada tugas.
  • Tujuan khusus model pengajaran langsung untuk membelajarkan siswa agar mengetahui bagaimana melakukan sesuatu / terampil (pengetahuan prosedural).
  • Model pengajaran langsung paling sesuai untuk penerapan mata pelajaran yang berorientasi pada kinerja dan berkomponen keterampilan.
  • Proses perencanaan untuk model pengajaran langsung meliputi dari menyiapkan tujuan, melakukan analisis tugas dan perencanaan ruang dan waktu.
  • Tujuan pembelajaran merupakan suatu pernyataan yang mendeskripsikan tujuan guru tentang apa yang harus dipelajari dan dilakukan siswa.)
  • Mager berargumen bahwa tujuan pembelajaran itu harus bermakna dan terdiri dari 3 bagian, yaitu perilaku siswa, situasi pengetesan, dan kriteria kinerja.
  • Analisis tugas merupakan suatu alat guru untuk mendefinisikan keterampilan atau sebagian pengetahuan tertentu yang akan diajarkan.
  • Pemahaman dan keterampilan kompleks tidak dapat dipelajari sekaligus atau dalam sekali pembelajaran sehingga perlu dilakukan pembagian menjadi beberapa bagian komponen yang saling terkait antar komponen.
  • Diharapkan dengan adanya pembagian menjadi beberapa komponen, keterampilan tersebut dapat diajarkan langkah demi langkah sehingga pemahaman dan terampil serta diperolehnya ketuntasan belajar.
  • Perencanaan waktu merupakan salah satu hal penting pada proses model pengajaran langsung agar waktu yang tersedia dapat tercukupi dan efisien untuk mengajarkan seluruh materi pada siswa dan siswa tetap termotivasi sepanjang waktu.
  • Perencanaan dan pengelolaan ruang juga merupakan suatu hal yang penting bagi proses model pengajaran langsung. Diharapkan dengan perencanaan dan pengelolaan ruang yang bervariasi, dapat tetap menjaga minat dan motivasi siswa terhadap materi ajar yang disampaikan


Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Oleh ;
M. Yudittia Yasin
1431082 / 2014-C
Pembelajaran Inovatif

v  Ciri-ciri khas pembelajaran berdasarkan masalah :
§  Pengajuan pertanyaan atau masalah
§  Berfokus pada interdisiplin
§  Penyelidikan otentik
§  Menghasilkan karya nyata dan memperlihatkannya
§  kolaborasi
v  Tujuan pembelajaran berdasarkan masalah adalah :
§  Mengembangkan keterampilan berpikir, pemecahan masalah, dan intelektual
§  Pembelajaran peran-peran orang dewasa dengan menghayati peran-peran itu melalui situasi-situasi nyata atau yang disimulasikan.
§  Untuk pembelajaran mandiri dan otonom.
v  Keterampilan-keterampilan berpikir tingkat tinggi tidak dapat diajarkan dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang dirancang untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan dan ide-ide konkret.
v  Perbedaan aktivitas pembelajaran tradisional dengan aktivitas pembelajaran berdasarkan masalah :
Pemb. Tradisional
Pemb. Masalah
Kinerja individual
Kolaborasi dg org lain
Kurang kegiatan hands on
Dengan kegiatan hands on
Pemikiran simbiolis
Dgn obyek dan situasi nyata
Ketrampilan+pengetahuan umum
Situasi spesifik

v  Pembelajaran berdasarkan masalah cocok dengan aktivitas mental diluar sekolah karena :
§  Pembelajaran berdasarkan masalah mendorong adanya kolaborasi dan penyelesaian tugas secara bersama-sama.
§  Mendorong pengamatan dan dialog dengan orang lain sehingga siswa dapat memperoleh gambaran konkret peran yang diamati tersebut.
§  Memdorong siswa menginterpretasikan dan menjelaskan gelaja dunia nyata dan membangun pemahaman tentang gejala itu.
v  Ciri-ciri pembelajaran berdasarkan masalah menurut Yazdani, 2002 :
§  Berpusat pada siswa, guru sebagai fasilitator atau pembimbing.
§  Belajar melampaui konten.
v  Tujuan pembelajaran berdasarkan masalah (menurut Yazdani, 2002) :
§  Pengetahuan : pengetahuan dasar dalam kaitannya dengan konteks dunia nyata.
§  Keterampilan-keterampilang : penalaran ilmiah, asesmen kritis, melek informasi, keterampilan interpersonal, keterampilan-keterampilan pengarahan dini, belajar sepanjang hayat.
§  Sikap-sikap : sadar akan nilai kerja tim, keterampilan-keterampilan interpersonal, dan peduli akan pentingnya isu-isu psikososial.
v  Keuntungan pembelajaran berdasarkan masalah (Yazdani, 2002) :
§  Menekankan pada makna, bukan fakta
§  Meningkatkan pengarahan diri
§  Pemahaman lebih tinggi dan perkembangan keterampilan yang lebih baik
§  Keterampilan-keterampilan interpersonal dan kerja tim
§  Sikap memotivasi diri sendiri
§  Hubungan tutor-mahasiswa
§  Tingkat pembelajaran


JIgsaw II

Jigsaw II

Oleh :

M. Yudittia Yasin
1431082 / 2014-C
Pembelajaran Inovatif

A.  Jigsaw II
Jigsaw II dapat digunakan apabila bahan yang dipelajari berbentuk naratif tertulis. Jigsaw II paling cocok untuk pelajaran yang menekankan pada konsep daripada keterampilan.
B.   Pelaksanaan Pembelajaran :
Siswa ditugasi mempelajari bab atau bahan-bahan lain untuk dibaca, dan diberikan “Lembar Ahli” yang berisi topik berbeda untuk anggota tim lain. Siswa dari tim berbeda dengan topik yang sama bertemu dalam seuatu “kelompok ahli”. Para ahli ini kemudian kembali kepada tim asal mereka dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang topik-topik “keahlian mereka”.     
Pengembangan bahan ajar dalam persiapan Menggunakan Jigsaw II meliputi : memilih beberapa bab, membuat lembar ahli  untuk setiap unit,  membuat kuis untuk setiap unit, dan  menggunakan kerangka diskusi.
C.  Langkah Pembelajarn Jigsaw II :
Kegiatan pertama dalam Jigsaw II adalah membagikan bacaan dan topik-topik ahli, penugasan topik-topik pada masing masing siswa, dan kemudian membaca. Membagikan lembar ahli , dan kemudian menugasi setiap siswa untuk mengerjakan topik tertentu.
Pastikan setiap kelompok ahli memiliki pembaca berkemampuan tinggi, rata-rata dan rendah. Tunjuk seorang pimpinan diskusi untuk setiap kelompok.  Seluruh anggota kelompok seharusnya mencatat seluruh poin yang didiskusikan. Tugas Pemimpin diskusi  adalah mengupayakan agar setiap orang berperan serta.
Para ahli seharusnya diberi waktu sekitar lima menit untuk menelaah ulang segala sesuatu yang telah mereka pelajari dari bahan bacaan dan diskusi mereka dalam kelompok ahli. Beri penekanan pada siswa bahwa mereka memiliki tanggung jawab dalam satu tim.



Teams-Games-Tournaments (TGT)

Teams-Games-Tournaments (TGT)

Oleh :

M. Yudittia Yasin

1431082 / 2014-C

Pembelajaran Inovatif

  • Pengertian TGT adalah teknik pembelajaran yang hampir sama dengan STAD namun untuk kuis dan sistem skor perbaikan individu, TGT menggunakan turnamen permainan akademik.
  • Bertanding dengan lawan seimbang, menyerupai sistem skor perbaikan indivudu pada STAD, yang memungkinkan bagi setiap siswa dari seluruh tingkat kinerja yang lalu menyumbang secara maksimal kepada skor tim mereka apabila mereka melakukan yang terbaik.
  • Persiapan Menggunakan TGT  meliputi : Mempersiapkan bahan Ajar, Menempatkan siswa ke dalam tim, menempatkan siswa pada meja-meja turnamen awal.
  • Menempatkan siswa ke dalam tim-tim heterogen yang terdiri dari empat sampai lima siswa persis sama seperti untuk STAD.

  1. Jadwal kegiatan

  • TGT terdiri dari siklus kegiatan  pengajaran teratur meliputi MENGAJAR-mempresentasikan pelajaran, BELAJAR TIM-Siswa bekerja pada LKS dalam tim, TURNAMEN- Siswa terlibat dalam permainan akademik dalam meja-meja turnamen tiap anggota homogen, PENGHARGAAN TIM – Skor tim dihitung berdasarkan skor perbaikan anggota tim, dan sebagai penghargaan.
  • Kegiatan yang dilakukan pada turnamen adalah menugasi salah satu anggota kelompok membantu membagi  satu lembar permainan, satu lembar kunci jawaban, dan satu tumpuk kartu bernomor, dan satu lembar skor permainan kepada tiap meja. Pada saat permainan dimulai, pembaca mengocok kartu dan mengambil satu kartu yang paling atas. Ia kemudian membaca dengan keras pertanyaan yang sesuai dengan nomor pada kartu tersebut, trmasuk pilihan jawaban.


  • Guru dapat menggunakan TGT untuk sebagian pengajaran mereka, dan metode atau model lain untuk bagian pengajaran lain. TGT dapat juga digunakan dalam kombinasi dengan STAD
  • TGT tidak secara otomatis menghasilkan skor yang dapat digunakan untuk menghitung nilai individual. Nilai siswa seharusnya didasarkan pada skor kuis atau assesmen individual lain, bukan pada poin turnamen atau skor tim.
  • Mengembangkan bahan ajar untuk STAD dan TGT amat mirip dengan mengembangkan lembar kegiatan siswa dan kuis untuk setiap satuan pengajaran. Untuk TGT, banyak butir pada permainan seharusnya adalah tigapuluh, mengingat angka ini sama dengan banyak kartu yang digunakan dalam permainan TGT.



Students Teams-Achievement Divisions

Students Teams-Achievement Divisions (STAD)

Oleh :

M. Yudittia Yasin

1431082 / 2014-C

Pembelajaran Inovatif

5 Komponen Utama STAD, yaitu :

  1. Presentasi kelas
  2. Kerja tim
  3. Kuis
  4. Skor perbaikan individual
  5. Penghargaan tim
Tim dibagi secara heterogen menurut kinerja akademik, jenis kelamin, dan suku.
Kerja tim merupakan ciri terpenting pada model STAD.
Diharapkan dengan adanya skor perbaikan, siswa dapat belajar lebih keras dan berkinerja lebih baik daripada sebelumnya untuk memperbaiki kinerja masa lalu.

Persiapan untuk menggunakan STAD
  1. Bahan ajar STAD menggunakan bahan ajar yang khusus dirancang untuk pembelajaran siswa.
  2. Penempatan siswa dalam tim, tim terbagi menjadi 4-5 siswa yang ditempatkan oleh guru mewakili heteronitas kelas.
  3. Langkah-langkah penyusunan tim : membuat salinan format lembar ikhtisar tim, merangking siswa, menetapkan jumlah anggota tim dan menempatkan siswa ke dalam tim, dan mengisi format lembar ikhtisar tim.
  4. penentuan skor dasar awal, mewakili skor rata-rata siswa pada kuis yang lalu.
Jadwal kegiatan
 STAD terdiri dari siklus kegiatan pengajaran tetap seperti "
  1. Mengajar - mempresentasikan pelajaran.
  2. Belajar Tim - siswa bekerja pada LKS dalam tim.
  3. Kuis - siswa dikenai kuis individual.
  4. Penghargaan Tim - Skor tim dihitung berdasarkan skor perbaikan anggota tim dan sebagai penghargaan.

Model Pembelajaran Kooperatif

Model Pembelajaran Kooperatif (MPK)

Oleh :

M. Yudittia Yasin

1431082 / 2014-C


Pembelajaran Inovatif

Model Pembelajaran Kooperatif merupakan salah satu teknik kelas untuk dapat memotivasi seluruh siswa, meningkatkan peran aktif seluruh siswa, meningkatkan sikap tanggung jawab antar siswa
Model Pembelajaran Kooperatif dapat dipergunakan untuk membantu siswa belajar pada setiap mata pelajaran, mulai dari keterampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks
Dalam Model Pembelajaran Kooperatif, siswa dibentuk dalam sebuah tim belajar dengan komposisi siswa yang heterogen dan seluruh anggota tim harus tuntas menguasai bahan yang dipelajari oleh tim. 
Ide utama dari model pembelajaran tim siswa yaitu
Penghargaan tim
Tanggung jawab individual
Kesempatan yang sama untuk berhasil
Lima model pembelajaran tim siswa yang banyak dipergunakan yaitu
Students Teams-Achievement Divisions (STAD)
Teams-Games-Tournaments (TGT)
Jigsaw II
Team Accelerated Instruction (TAI)
Cooperative Integrated Reading and Competition (CIRC)
Dua model pembelajaran tim siswa yang dipergunakan untuk mata pelajaran tertentu dan tingkat kelas tertentu yaitu
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) untuk pengajaran menulis dan membaca kelas II-VIII
Team Accelerated Instruction (TAI) untuk matematika kelas III-IV
Penghargaan tim diperoleh jika teman satu tim saling membantu belajar
Suatu tim belajar dikatakan tuntas jika seluruh anggota tim telah menuntaskan informasi atau keterampilan yang sedang dipelajari
TAI merupakan penggabungan pembelajaran kooperatif dengan pengajaran individual. 
Setiap siswa memiliki tanggung jawab individual untuk memeriksa setiap pekerjaan mereka
Keberhasilan setiap siswa tetap menjadi tanggung jawab individual karena skor tes final dikerjakan oleh tiap individual tanpa bantuan teman sesama tim. 
Siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil karena seluruh siswa telah ditempatkan sesuai dengan tingkat pengetahuan awal mereka
CIRC merupakan suatu program komprehensif untuk pengajaran membaca dan menulis pada kelas-kelas tinggi sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Pembahasan Umum Tentang Strategi Belajar

Strategi Belajar

Oleh :

M. Yudittia Yasin

1431082 / 2014-C

Pembelajaran Inovatif

 v Kepentingan dan tujuan pengajaran strategi
u Dengan adanya pengajaran strategi diharapkan untuk memperbaiki memperoleh cara dan hasil pengajaran yang baik, sebagaimana diungkapkan oleh Claire Weinstein dan Richard Meyer (1986), “pengajaran yang baik meliputi mengajarkan siswa bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berpikir, dan bagaimana memotivasi diri mereka sendiri
u Pentingnya pengajaran strategi diharapkan membentuk keberhasilan siswa yang bergantung banyak dari kemahiran untuk belajar secara mandiri dan memonitor belajar mereka sendiri.
Pendefinisian Strategi-Strategi Belajar
u  Strategi-strategi yang digunakan siswa untuk memecahkan masalah belajar tertentu sesuai dengan kemauan dan kemampuan dirinya sendiri.
Tujuan pebelajar mandiri :
u  Mendiagnose suatu situasi pembelajaran tertentu.
u  Memilih suatu strategi belajar tertentu untuk menyelesaikan masalah belajar tertentu yang dihadapi.
u  Memonitor keefektifan strategi tersebut.
u  Membuat cukup termotivasi untuk terlibat dalam situasi belajar tersebut sampai masalah tersebut terselesaikan
Pentingnya pengetahuan awal
u  Pengetahuan awal adalah kumpulan dari pengetahuan dan pengalaman individu yang diperoleh sepanjang hidup mereka dan apa yang ia bawa kepada suatu pengalaman belajar baru.
u  Pentingnya pengetahuan awal dalam pengajaran untuk membantu siswa membangun jembatan antara pengetahuan baru dan pengetahuan yang telah dipelajari sehingga memungkinkan pembelajaran-pembelajaran baru.
u  Pengorganisasian awal dilakukan untuk mengaitkan bahan-bahan pembelajaran baru dengan pengetahuan awal, serta untuk memperkenalkan siswa pada uraian-uraian pada buku teks.
Jenis-jenis pengetahuan :
u  Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan yang dimiliki pebelajar tentang sesuatu, contohnya adalah fakta, generalisasi, dan pendapat.
u  Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan yang dimiliki siswa tentang bagaimana melakukan sesuatu, contohnya adalah bagaimana cara membuat meja yang baik, bagaimana cara menulis yang baik, dan sebagainya.
u  Pengetahuan kondisional adalah pengetahuan tentang kapan dan mengapa menggunakan pengetahuan deklaratif atau pengetahuan prosedural tertentu, contoh : kapan saatnya menendang bola, kapan saatnya berteriak, kapan saatnya menggarisbawahi, dan sebagainya.
Sistem Memori:
u  Para ahli menganalogikan pemrosesan informasi tentang belajar dengan komputer.
u  Informasi pertama kali diterima oleh panca indera (dianalogikan dengan memasukkan data melalui pengetikan menggunakan keyboard komputer).
u  Kemudian disimpan sementara dalam memori jangka pendek atau memori kerja (dianalogikan dengan ruang penyimpanan pada komputer).
u  Dan akhirnya disimpan secara permanen pada memori jangka panjang untuk dapat dipanggil kembali di kemudian hari (dianalogikan pada hard disk komputer).
u  Proses pemindahan informasi baru dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang disebut encoding atau pengkodean.
u  Proses pengkodean dan pengorganisasian dalam bentuk proposisi (unit pengetahuan deklaratif), produksi(unit pengetahuan prosedural) dan skemata (struktur pengetahuan yang lebih kompleks).
u  Pengorganisasian awal adalah salah satu cara untuk mengaktifkan skemata di dalam memori jangka panjang yang berhubungan dengan informasi baru yang akan dipelajari.